Motif Batik Grompol digunakan atau
di kenakan atau diselimutkan pada calon pengantin setelah mereka melakukan ritual mandi pada upacara
siraman. Makna Grompol berarti menjadi satu. Batik motif grompol digunakan oleh pasangan pengantin bertujuan
agar mereka dapat hidup mengerompol, bersama atau selalu hidup bersatu.
Motif
batik tradisional truntun ini melambangkan cinta yang bersemi atau bertautnya
kembali cinta. Konon katanya motif batik ini tercipta tatkala permaisuri
Susuhunan Paku Buwono III sedang dilupakan oleh suami.
Dalam kesedihan permaisuri pada saat tidak lagi diperhatikan oleh suami sang permaisuri mendekatkan diri dan sesalu berdoa kepada tuhan YME sambil membatik. Dan terciptalah batik bintang-bintang yang dinamakan Truntun
Dalam kesedihan permaisuri pada saat tidak lagi diperhatikan oleh suami sang permaisuri mendekatkan diri dan sesalu berdoa kepada tuhan YME sambil membatik. Dan terciptalah batik bintang-bintang yang dinamakan Truntun
Batik parang
rusak merupakan pola dasar dari pola terdiri dari ornamen lidah api yang
disebut uceng dan ornamen blumbangan atau mlinjon. Lidah api melambangkan api
yang merupakan simbol nafsu, sedangkan blumbangan atau mlinjon menggambarkan
unsur air yang menggambarkan nafsu supiah. Parang rusak mempunyai arti perang
atau menyingkirkan yang rusak. Perang disini termasuk perang melawan hawa nafsu
jahat atau kejelekan. Motif batik parang rusak mempunyai makna agar manusia
didalam hidupnya dapat mengendalikan nafsu sehingga berwatak dan berperilaku
luhur. Motif batik parang rusak dahulu merupakan motif larangan yang hanya
boleh dikenakan oleh raja dan keluaraganya sebagai busana upacara kenegaraan.
Motif batik Prabu Anom bentuk bangun ceploknya berupa segi
delapan bergelombang yang berasal dari elips batik sebagai garis batasnya. Sisi
bidang ceplok Prabu Anom adalah gurdha, bervariasi lereng, nitik dan semen.
Motif batik Prabu Anom mempunyai makna melindungi dan memelihara budaya luhur
di negaranya






