Tradisi Labuhan (Melabuh) adalah upacara adat masyarakat Jawa, dengan cara membuang sesaji ke Pantai Selatan. Labuhan, peninggalan Panembahan Senopati raja Mataram. Sampai saat ini tradisi labuhan masih dilestarikan khususnya trah keturunan Panembahan Senopati. Asal usul Labuhan bermula saat Senopati secara spiritual meminta bantuan keselamatan kepada Ratu Roro Kidul. Ratu Roro Kidul sanggup memberikan bantuan tersebut dengan syarat Senopati harus mau menikah dengan Nyi Roro Kidul. Upacara Labuhan biasanya diikuti oleh masyarakat termasuk termasuk pengunjung Pantai Selatan. Biasanya meskipun sebagian sesaji dilarung namun tidak semua sesaji hilang ditelan ombak, tapi justru kembali ke bibir pantai. Sesaji yang ada di pinggir pantai menjadi rebutan warga. Sesaji ini dipercaya akan membawa berkah, keselamatan dan keberuntungan.
Keraton disebut juga dengan kedaton. Keraton memiliki makna nasehat dan peringatan untuk mencintai sesama dan berlaku sederhana serta berhati-hati dalam bertingkah laku dan selalu berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Jogja merupakan salah satu kota yang susunan pemerintahannya di pimpin oleh seorang Raja dan merangkap sebagai gubernur. Jogja dikatakan istimewa karena pemilihan gubernur tidak di adakan. Raja yang memimpin keraton secara otomatis menjadi gubernur. tidak ada pilkada dan sangat berbeda dengan sistem pemilihan gubernur daerah lain. Selain itu gubernur bersifat turun-temurun dari keturunan kerajaan keraton Jogja, oleh karena itu Jogja disebut juga daerah yang Istimewa. Salah satu letak keistimewaan Jogja adalah nilai-nilai kemerdekaannya yang menyatu antara rakyat dan pemimpinnya.
Dalam perayaan budaya Jawa sering sekali disajikan Tumpeng. Selain bentuknya yang unik seperti piramid, tumpeng memiliki filosofi yang tinggi. Tumpeng kependekan dari “Tumpaking penguripan-penguripan lempeng temuju pangeran”, yang berarti “Berkiblatlah kepada pemikiran bahwa manusia itu hanya hidup menuju jalan Tuhan Yang Maha Esa”. Menurut fungsinya, tumpeng dibagi menjadi tumpeng adhem-adheman, among-among, alus, kapuranto, kendhit, ponco warno, punar, robyong dan obyong gundul, dan masih banyak tumpeng lainnya.
Tumpeng adhem-adheman dibuat dari nasi putih yang puncaknya dikalungi sobekan daun pisang, melambangkan pengharapan kepada makhluk halus penghuni Keraton untuk tidak menganggu kegiatan manusia dan menjaga ketentraman lingkungan. Sedangkan Tumpeng Among-among dibuat dengan nasi putih disajikan bersama aneka sayur mayor, seperti bayam, kacang panjang, dan kangkung serta bumbu megana atau gudangan sebagai takzim kepada makhluk halus yang ada di sekitar manusia.
Tumpeng adhem-adheman dibuat dari nasi putih yang puncaknya dikalungi sobekan daun pisang, melambangkan pengharapan kepada makhluk halus penghuni Keraton untuk tidak menganggu kegiatan manusia dan menjaga ketentraman lingkungan. Sedangkan Tumpeng Among-among dibuat dengan nasi putih disajikan bersama aneka sayur mayor, seperti bayam, kacang panjang, dan kangkung serta bumbu megana atau gudangan sebagai takzim kepada makhluk halus yang ada di sekitar manusia.
Ada kisah menarik dibalik motif batik Parang Rusak. Banyak versi yang mengatakan bahwa pola parang rusak muncul dimasa Raden Panji pahlawan kerajaan Kediri dan Jenggala Jawa Timur pada abad ke 11. Yang lain percaya parang rusak diciptakan oleh Sultan Agung dari Mataram setelah meditasi di pantai Selatan Jawa. Konon ilham datang dari fenomena gelombang-gelombang besar yang memecah karang hingga rusak .Dalam bahasa Jawa istilah parang dekat dengan kata karang. Parang rusak berarti karang yang pecah atau rusak. Parang rusak merupakan pola dasar dari pola parang terdiri dari ornamen lidah api yang disebut uceng dan ornamen blumbangan atau mlinjon. Lidah api melambangkan api simbol nafsu amarah sedangkan blumbangan atau mlinjon menggambarkan air yang rusak. Motif batik parang rusak mempunyai makna agar manusia dapat mengendalikan nafsu sehingga memiliki watak dan perilaku yang luhur. Dulu motif batik parang rusak adalah motif larangan yang hanya boleh digunakan oleh raja dan keluarganya sebagai busana upacara kenegaraan.
Asal-usul Batik. Batik di Jogjakarta sudah dikenal sejak kerajaan Mataram pertama. Daerah pembatikan pertama ada di desa Pleret. Pembatikan pada jaman dulu hanya dilakukan di lingkungan keluarga Keraton saja, dikerjakan oleh para dayang keraton. Kemudian pembatikan meluas pada trap pertama pada keluarga Keraton lainnya yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-tentara kerajaan. Pada upacara resmi kerajaan keluarga keraton baik laki-laki maupun perempuan memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik. Karena keraton Jogjakarta sering mendapat kunjungan dari rakyat, maka rakyat akhirnya tertarik meniru batik yang dipakai oleh keluarga Keraton, hingga batik dikenal masyarakat luas, hingga mancanegara. Salah satu pelopor kreasi batik Jogja adalah Kanjeng Ratu Ayu Hastungkoro, sebagai perempuan yang hidup di lingkungan keraton, beliau banyak menciptakan batik klasik Jogja, antara lain motif Pandan Sima, Gembira Loka, dan Parangtritis.
Festival Kesenian Yogyakarta atau FKY adalah event seni budaya tahunan yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta, diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi. Dalam acara tersebut dipentaskan dan dipamerkan hasil budaya dari para seniman Jogja, yang tergabung dalam komunitas seni, seperti seni lukis dan seni rupa. Gelaran Festival Kesenian Yogyakarta diawali dengan pawai budaya di Alun-Alun Lor Keraton Jogjakarta, kemudian dilanjutkan dengan pasar seni selama satu bulan penuh. Khusus untuk tahun 2011 FKY diadakan hanya sebelas hari saja dan seniman Nasirun serta Bondan Nusantara digunakan sebagai ikon FKY.
Taman Budaya Jogja merupakan pusat kegiatan budaya yang sering digunakan masyarakat baik untuk keperluan pameran, pertunjukan seni, workshop, seminar, dan lain sebagainya. Bangunan bergaya arsitektur kolonial ini memiliki 2 gedung pertunjukan, yaitu Concert Hall dengan kapasitas 2-ribu orang, dan gedung Societet yang berdaya tampung 500 orang. Taman Budaya sebagai jendelanya Jogjakarta atau The Window of Yogyakarta, diharapkan mampu meningkatkan kemampuan olah rasa masyarakat luas, serta memantapkan predikat Kota Yogyakarta sebagai kota Budaya.
Sendratari Ramayana Jogjakarta memang pagelaran yang memukau. Sendratari ini merupakan salah satu kesenian tradisional yang memadukan seni tari dan drama, dalam satu pertunjukan. Mengambil cerita Ramayana, percintaan Sri Rama dan Dewi Shinta, yang terbagi dalam beberapa episode dalam setiap pementasannya.
