Batik parang rusak merupakan pola dasar dari pola terdiri dari ornamen lidah api disebut uceng dan ornamen blumbangan atau mlinjon. Lidah api melambangkan api yang merupakan simbol nafsu, sedangkan blumbangan atau mlinjon menggambarkan unsur air yang menggambarkan nafsu supiah. Parang rusak mempunyai arti perang atau menyingkirkan yang rusak. Perang tersebut termasuk perang melawan hawa nafsu jahat atau kejelekan. Motif batik parang rusak mempunyai makna agar manusia didalam hidupnya dapat mengendalikan nafsu sehingga berwatak dan berperilaku luhur. Motif batik parang rusak dahulu merupakan motif larangan yang hanya boleh dikenakan oleh raja dan keluarganya sebagai busana upacara kenegaraan.
Ceplok purbonegoro adalah salah satu batik khas Jogjakarta. Purbo artinya memelihara sedangkan nogoro yang artinya negara. Bentuk ceplok pubonegoro ini seperti bunga helianthus annus. Motif Ceplok purbonegoro dulunya di kenakan oleh raja atau pemimpin, yang mengandung makna bahwa seorang pemimpin wajib memelihara negara sebaik-baiknya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, termasuk juga memelihara kelestarian lingkungan, sesuai dengan arti jenis batik itu sendiri.
